Kamis, 11 Juli 2019

Indahnya Geliat Kehidupan Muslim di Jepang

Jepang seperti tidak ada habisnya untuk dibahas. Mulai dari kebiasaan hidup warganya, tempat wisata, hingga budayanya. Dengan semakin menggeliatnya kehidupan muslim di Jepang, sarana pendukung bagi muslim pun tumbuh semakin subur.


Salah satunya adalah keberadaan pabrik pembuatan sajadah khas Jepang di kota Tokyo. Sudah 38 tahun pabrik ini berjalan. Awalnya, pabrik ini hanya memproduksi baju untuk biksu. Namun sejak dua tahun lalu, pabrik ini mulai memproduksi sajadah.

Pemilik maupun pekerja di pabrik bernama Kaji Kinran ini, tidak ada yang beragama Islam. Tapi mereka memberikan perhatian tersendiri bagi para pendatang muslim.

Dalam sehari, satu pengrajin hanya bisa menghasilkan lima sajadah demi menjaga kualitas. Desainnya pun berbeda dengan sajadah kebanyakan karena menggunakan corak alam khas Jepang seperti bunga sakura dan perpaduan empat musim yang ada di Jepang.

Sajadah dengan corak khas Jepang.Sajadah dengan corak khas Jepang. Foto: Daeng Nico/ Jazirah Islam TRANS 7

Seperti jumlah musimnya pula, sajadah Kinran terdiri dari empat jenis. Masing-masing memiliki arti semangat, kesejahteraan, umur panjang, dan keberuntungan. Harga yang dibandrol berkisar dari 71 ribu sampai 88 ribu yen atau jika dirupiahkan mencapai Rp 10 juta.

Mualaf yang Mengenal Islam dari Indonesia

Dalam perjalanan ini, tim Jazirah Islam kembali dipertemukan dengan seorang mualaf asli Jepang, Tomoya Takada. Lagi-lagi, Indonesia yang mengantarkan kisah keislaman pada pemuda ini.

"Pada 2012, saya ke Indonesia untuk pertama kali. Waktu itu saya pergi sendiri. Sebelum ke sana, saya sama sekali tidak tahu apa itu Islam, agama Islam, maupun muslim. Tapi orang-orang Indonesia sangat ringan tangan. Mereka dengan cepat menyumbang uang, makanan. Saya terkejut. Sejak saat itu saya mulai mempelajari Islam," kenangnya.

Tomoya dan host Jazirah Islam Dinda TahierTomoya dan host Jazirah Islam Dinda Tahier. Foto: Daeng Nico/ Jazirah Islam TRANS 7

Mempelajari Islam, diakui Tomoya membuat dirinya berpikir mengenai asal usul dirinya. Dia mulai mempertanyakan, sebelum dilahirkan ke Bumi, dirinya berada di mana, lalu setelah meninggal, akan pergi ke mana. Pikiran tersebut terus mengganggunya.

Tomoya mendapat hidayah dari Indonesia. Tomoya mengenal Islam dari Indonesia. Foto: Daeng Nico/ Jazirah Islam TRANS 7

Setelah memeluk Islam, Tomoya merasa terlahir kembali. Baginya, dulu hidup terasa hampa. Apalagi mengingat tabiatnya yang temperamental, seringkali membuatnya gelisah tak karuan. Namun sedikit demi sedikit, kebiasaan buruknya terkikis. Basuhan air wudhu dan gerakan salat, mampu meredam amarahnya.

Hingga kini, Tomoya terus memperkaya ilmu keislamannya. Ia pun aktif memberikan khotbah di salah satu masjid di kotanya. Ia bercita-cita menjadi ustaz yang bisa menyebarkan agama Islam ke seantero Jepang.

0 komentar:

Posting Komentar