Kamis, 05 September 2019

Manfaat Traveling untuk Milenial: Belajar Toleransi dan Obat Kegalauan

Pelesiran bukan sebatas berkunjung ke tempat baru. Nyatanya buat generasi milenial, ada faedah lainnya yang penting dari traveling buat kejiwaan mereka.

Pergi traveling, ditambah lagi ke tempat baru, yang tidak biasa kita jumpai memaksakan untuk menyesuaikan dengan lingkungannya. Pasti, ini memunculkan reaksi buat beberapa orang, tetapi nyatanya ada 'silver lining' yang dapat kita petik.



Diantaranya ada toleransi atau mengerti ketidaksamaan. Menurut Pengamat Sosial serta Ketua Program Vokasi Komunikasi Kampus Indonesia, Devie Rahmawati, traveling memaksakan orang untuk akrab dengan ketidaksamaan. Individu itu akan lihat orang dengan beda suku, agama atau ras.

"Saat pergi ke beberapa tempat, harus, akan berjumpa dengan orang dari beberapa suku, agama, serta ras. Mereka akan mengerti contohnya jika mereka harus dapat mempunyai toleransi yang besar pada kebanyakan orang. Mengingat jika dalam tempat aslinya kebanyakan orang sama, tetapi di lain tempat mungkin saja ia ialah minoritas. Hingga sepulang dari liburan ia akan mempunyai modalitas untuk lebih terima ketidaksamaan serta menjauhi diskriminitas," katanya waktu dihubungi detikTravel Rabu, (30/1/2019).

Devie seseorang traveler yang sudah menelusuri 29 negara serta 35 kota ini menerangkan jika traveling ke tempat baru mengajari individu tidak untuk melakukan perbuatan semaunya. Ini, jadi satu diantara point yang dimasukkan dari toleransi.

"Contohnya, kita di Indonesia, Muslim sebagian besar, ke luar negeri minoritas. Dapat belajar, oh ya ya, kita tidak bisa belagu nih, mentang-mentang sebagian besar. Contohnya bagaimana Inggris memperlakukan minoritas, mereka benar-benar toleransi. Jadi saat balik Indonesia tidak bisa semaunya. Tidak hanya SARA, dan juga materi. Saat Anda kaya, ada orang kaya yang tidak menyepelekan orang miskin sebab mereka punyai potensi kelebihan. Semakin dapat terima ketidaksamaan jadinya," imbuhnya.

Dalam analisa yang dikerjakan oleh Momondo tahun 2016 bertopik 'The Value of Travelling', 7.292 responden dari 18 negara mengutarakan jika 61 % dari mereka yakin, jika sedikit akan masalah intoleransi di dunia bila beberapa orang pergi berekreasi.

Tidak hanya 76 % dari responden mengatakan traveling membuat mereka lebih lihat bagian positif dalam ketidaksamaan budaya. Ditambah, 53 % dari keseluruhan responden menjelaskan kedamaian semakin lebih banyak terbentuk bila beberapa orang seringkali traveling.

Sedang, menurut Psikolog Bona Sardo Hutahaean, M.Psi, traveling, bisa buka cakrawala berpikir yang lebih luas. Menurut dia, ini dapat juga ajak berdamai pada diri kita serta orang yang ada di seputar. Traveling jadi obat kebimbangan golongan milenial

"Untuk Solo (traveling-red) bisa banyak pengalaman baru jadi individu jadi beberapa orang, satu orang yang perlu banyak survive dengan sekitar lingkungan apa itu memang disukai apa bukan, atau mencari situasi yang berlainan, kepribadian ia. Dari sana akan ada gesekan, friksi dalam diri, pada akhirnya semakin kenal , saya apa senang gunung pantai apa perkampungan atau perkotaan dengan individu," tutur Bona.

Bona memberikan tambahan, bila pergi bersama dengan keluarga atau kerabat juga bisa temukan bagian lain yang mungkin belum diketemukan awalnya.

"Grup traveler dengan rekan, mitra, tentu banyak pula beberapa hal yang mungkin dapat baru dapat tidak. Sebab telah kita mengenal, sebab telah mengenal berapakah tahun atau keluarga, dari lahir, tidak ada yang baru. Barunya dengan keluarga mungkin ada beberapa hal yang diakui jika kok komunikasi dengan ayah tidak selamanya agresif, atau komunikasi dengan kakak adik, kok benar-benar dekat enjoy, berlibur, hal baru, dengan rekan 1/2 dekat atau teman dekat tentu banyak yang dapat menolong kenal diri lebih jauh si mitra itu. Jika solo traveler dampak ke diri kita, grup jalinan," lebih Bona.

Kembali pada Devie, ia juga menjelaskan, seseorang traveler semakin lebih gampang untuk hadapi surprise hidup. Hal ini menolong menangani kritis 'berdamai dengan diri sendiri'.

"Saat pelesiran tidak semua gagasan akan berjalan lancar. Hadapi beberapa rintangan seperti penginapan yang tidak wajar, penerbangan yang dipending, rekan perjalanan yang tidak sehat dan lain-lain. Keadaan ini akan menguatkan sekembalinya ke tempat asal," tutur Devie.

Nyatanya, beberapa hal yang dapat dipelajari dari pelesiran. Misalnya ialah tenggang rasa serta berdamai dengan satu hal yang ada di diri kita. Tentu saja, ini kembali pada diri semasing, apa arah kamu menelusuri seluk beluk dunia?

0 komentar:

Posting Komentar