Senin, 17 Februari 2020

Aturan Islam Ihwal Aturan Khitan Bagi Perempuan, Apakah Wajib?

Aturan Islam Tentang Hukum Khitan bagi Perempuan Aturan Islam Tentang Hukum Khitan bagi Perempuan, Apakah Wajib?

Islam yaitu agama yang sempurna. Hal ini sanggup kita lihat dari bagaimana Islam mengatur semua aspek kehidupan penganutnya, termasuk di dalamnya yaitu aspek kebersihan dan kesehatan.

Syariat Islam memerintahkan kepada para penganutnya untuk selalu hidup higienis sebagai cerminan keimanan diri para pemeluknya. Kebersihan tersebut tidak hanya kebersihan lingkungan saja, namun juga kebersihan terhadap diri sendiri. Oleh lantaran itu, Islam memerintahkan penganutnya untuk melakukan khitan.

Jika dilihat dari sisi ilmu fiqih, tujuan adanya aturan khitan yaitu untuk menghilangkan najis yang terdapat pada ujung kemaluan yang sanggup mencegah keabsahan shalat. Hal ini disebabkan kalau kulit kulup (ujung kemaluan laki-laki) belum dipotong, sangat mungkin bahwa sisa air kencing masih terkumpul di balik kulit tersebut.

Sedangkan kalau dilihat dari sisi medis, khitan sanggup mencegah benjol jalan masuk kemih dan penyakit-penyakit kelamin yang lain. Hal ini lantaran ujung organ intim laki-laki merupakan kawasan tumbuhnya banyak basil yang sewaktu-waktu sanggup menyerang organ tersebut, sehingga harus dihilangkan dengan cara khitan (dipotong).

Perintah khitan tiba semenjak zaman Nabi Ibrahim saw. Dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim disebutkan bahwa Nabi Ibrahim saw diperintahkan oleh Allah saw untuk melakukan khitan ketika berusia delapan puluh tahun.

اخْتَتَنَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام وَهُوَ ابْنُ ثَمَانِينَ سَنَةً بِالْقَدُّومِ

“Nabi Ibrahim a.s. berkhitan ketika berusia 80 tahun dengan kapak.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Sejak ketika itulah, khitan menjadi salah satu aliran yang diikuti oleh para pengikut Nabi Ibrahim, dan tetap dilestarikan hingga Nabi Muhammad saw diutus. Perintah untuk tetap mengikuti aliran (millah) Nabi Ibrahim ini terekam terang dalam firman Allah swt:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang yang musyrik.” (QS. An-Nahl: 123)

Para ulama bersepakat bahwa khitan bagi laki-laki yaitu wajib. sedangkan, mereka berselisih pendapat terkait aturan khitan bagi perempuan. Para ulama Maliki, Hanafi, dan Hanbali menetapkan bahwa khitan bagi kaum perempuan yaitu sunnah.

Pendapat ini didasarkan pada hadis yang menyebutkan bahwa khitan merupakan potongan dari fitrah dan disejajarkan dengan istihdad (mencukur bulu kemaluan), mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak. Hadis yang dimaksud yaitu sebagai berikut:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ « الْفِطْرَةُ خَمْسٌ الاِخْتِتَانُ وَالاِسْتِحْدَادُ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ وَنَتْفُ الإِبْطِ ». (رواه البخاري ومسلم)

“Dari Abu Hurairah RA, dari Rasulullah saw, dia bersabda: fithrah insan ada lima, yaitu khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.”

Berbeda dengan ulama Maliki dan Hanafi, Syafi’i menganggap bahwa kewajiban khitan tidak hanya bagi berlaku bagi laki-laki, namun juga untuk perempuan. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh an-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab. Kewajiban tersebut didasarkan pada hadis berikut ini:

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ الأَنْصَارِيَّةِ ، أَنَّ امْرَأَةً كَانَتْ تَخْتِنُ بِالْمَدِينَةِ فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَنْهِكِي فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ ، وَأَحَبُّ إِلَى الْبَعْلِ.

“Dari Ummi Athiyah al-Anshariyyah, sungguh kala itu terdapat seorang perempuan di Madinah yang hendak berkhitan. Kemudian Nabi saw berkata : janganlah dihabiskan lantaran hal itu sangatlah berharga bagi perempuan dan sangat disukai oleh suami.” (HR. Abu Daud

Meskipun hadis tersebut dinilai dhaif oleh Abu Daud. Sebab kedhaifan hadis ini yaitu terdapat rawi yang berjulukan Ubaidillah ibn Amr. Meskipun hadis ini dhaif, namun tidak serta merta diabaikan begitu saja, lantaran sebagaimana yang disampaikan oleh Ibn Hajar al-‘Asqalani, dalam Fathul Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari bahwa hadis ini mempunyai dua syahid (hadis penguat), yaitu satu hadis berasal dari Ummu Aiman, dan satu lainnya dari Anas bin Malik yang bernilai shahih.

Dari hadis tersebut, sekilas sanggup terbaca bahwa khitan bagi perempuan memang sudah dilaksanakan pada zaman Nabi Muhammad saw, bahkan Nabi saw hingga memperlihatkan isyarat cara khitan yang baik bagi perempuan yaitu hanya memotong ujung saja. Hal ini terang sangat berbeda dengan khitan bagi laki-laki yang memang mempunyai alasan yang terang untuk berkhitan dari sisi kesucian dan kebersihan. Sedangkan bagi perempuan lebih pada sifat pemuliaan semata.

Ibnu Qudamah di dalam al-Mughni menyebutkan bahwa berkhitan diwajibkan bagi kaum laki-laki dan merupakan suatu kehormatan (dianjurkan) bagi kaum perempuan. Dan pendapat ini yaitu pendapat dominan ulama’.

Dengan demikian, kecenderungan pada pendapat bahwa aturan khitan bagi laki-laki yaitu wajib dan Sunnah bagi perempuan lebih besar dari pada pendapat yang menyampaikan bahwa aturan khitan wajib bagi laki-laki dan perempuan. Wallahu a’lam.

0 komentar:

Posting Komentar