Kamis, 20 Februari 2020

Inilah Ratu Ageng, Wanita Jago Di Balik Sosok Pangeran Diponegoro

 Perempuan Hebat di Balik Sosok Pangeran Diponegoro  Inilah Ratu Ageng, Perempuan Hebat di Balik Sosok Pangeran Diponegoro

Sosok Pangeran Diponegoro dikenal sebagai jagoan bagi masyarakat pribumi, lantaran melalui tangannya lah Perang Jawa pecah pada (1825-1830). Ia yakni putra Sultan Hamengkubuwono III. Namun, alih-alih menjadi penerus tahta kesultanan, Pangeran Diponegoro menempuh jalannya sendiri untuk melawan imbas Belanda di kalangan istana serta aneka macam ketidak adilan yang menimpa masyarakat.

Lalu, bagaimana masa kecil Pangeran Diponegoro?

Pangeran Diponegoro lahir sempurna menjelang fajar pada Jum’at Wage, 11 November 1785 di Keraton Yogyakarta. Diponegoro kecil tinggal di perumahan kaum wanita keraton (keputren) hingga berusia 7 tahun. Ia kemudian pindah untuk tinggal bersama nenek buyutnya, Ratu Ageng, di Tegalrejo. Diponegoro diasuh oleh neneknya hingga berusia 18 tahun, di sinilah pembentukan huruf Diponegoro mulai terbentuk. Mulai dari keyakinan agama, pergaulan dengan kaum santri, serta pandangan-pandangan sosialnya banyak menerima imbas dari asuhan Ratu Ageng.

Siapakah Ratu Ageng?

Ia yakni putri seorang kiai terkemuka di Kabupaten Sragen, dan silsilahnya hingga pada Sultan Abdul Kahir I, Sultan Bima yang bertakhta di Sumbawa pada 1621-1640. Peter Carey (2016) menyebutnya sebagai sosok wanita yang Tangguh; ia mendampingi suaminya, Sultan Hamengkubuwono I, dalam Perang Giyanti (1746-1755), bersama sang suami membentuk Kesultanan Yogyakarta, melahirkan pewaris takhta Sultan, hingga yang paling menciptakan terkesan ialah statusnya sebagai panglima pasukan kawal istimewa wanita kerajaan yang merupakan satu-satunya barisan pasukan militer Keraton Yogya.

Ratu Ageng yakni seorang wanita yang agamis. Ia dikenal sebagai salah satu ulama wanita di Jawa. Sebagai seorang ulama, kegemarannya ialah membaca kitab-kitab agama. Ia juga merupakan seorang penganut tarekat Syattariyah. Ratu Ageng juga sangat disiplin menegakkan kehidupan yang religius. Ia bahkan cukup kecewa dengan perilaku putranya, Sultan HB II, yang tak hirau terhadap ibadah. Kepribadian yang religius ini berjalan seimbang dengan kuatnya Ratu Ageng dalam menjaga sopan santun istiadat budaya Jawa

Sikap tegas sangat menonjol dalam diri Ratu Ageng. Dalam pandangan Diponegoro, Ratu Ageng disebut suka membuatnya ketakutan dikala memberi perintah. Sikap kritis juga ditunjukkan Ratu Ageng terhadap kepemimpinan putranya yang dianggap tidak tegas dan tidak terampil.

Di tengah masyarakat Tegalrejo, Ratu Ageng juga tampak sebagai sosok wanita yang cermat dan terampil dalam bidang perdagangan. Ratu Ageng ulet mengatakan hasil pertanian Tegalrejo hingga jauh ke kawasan pesisir Laut Jawa.

Kharisma Ratu Ageng telah menciptakan Diponegoro sangat terkesan. Diponegoro sangat kagum dengan nenek buyutnya ini yang berusia sekitar 60 tahun dikala mengasuh dirinya yang masih berusia 7 tahun. Tumbuh dewasa bersama Ratu Ageng telah membentuk eksklusif Diponegoro yang religius serta mempunyai tenggang rasa terhadap rakyat kecil. Dari sini lah lahir keberanian Pangeran Diponegoro untuk melawan keadilan yang terjadi di sekitarnya.

0 komentar:

Posting Komentar