Rabu, 19 Februari 2020

Rahasia Ilmu Laduni Para Wali Yang Dapat Anda Amalkan

Rahasia Ilmu Laduni Para Wali yang Bisa Anda Amalkan  Rahasia Ilmu Laduni Para Wali yang Bisa Anda Amalkan

Ilmu berdasarkan bahasa berasal dari kata arab “alima” yang berarti mengetahui. Ilmu juga berasal dari bahasa latin “science” yang bermakna pengetahuan, mengetahui, dan memahami.

Ilmu berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) mempunyai dua definisi, yaitu:
  1. Ilmu ialah pengetahuan mengenai suatu bidang yang disusun secara tersistem berdasarkan metode-metode tertentu, yang sanggup dipakai untuk menerapkan gejala-gejala tertentu dibidang pengetahuan tersebut.
  2. Ilmu ialah kepandaian problem duniawi, akhirat, lahir, batin, dan lain-lain.
Menuntut ilmu hukumnya wajib sebagaimana sabda Rosulullah SAW:

طلب العلم فريضة على كل مسلم و مسلمة

“Menuntut ilmu wajib bagi muslim pria dan perempuan.” [Kitab Ta’lim muta’alim]

Bukan hanya menuntut ilmu yang diwajibkan bagi kita, akan tetapi apabila kita sudah mendapatkan ilmu wajib bagi kita untuk mengamalkannya. Sebagaimana dikatakan oleh pepatah bahasa arab yang artinya: “Ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon tidak berbuah.”

Apakah seseorang sanggup mendapatkan ilmu hanya dengan cara belajar? Tidak, seorang kekasih Allah mendapatkan ilmu laduni. Lalu, apa yang dimaksud dengan ilmu laduni?

Ilmu laduni ialah ilmu yang diberikan lagsung oleh Allah SWT kepada hamba-Nya yang saleh, bertakwa, dan selalu berusaha membersihkan hatinya dari nafsu dan sifat-sifat tercela. Ilmu laduni diperoleh dengan tanpa perjuangan belajar.

Terkadang ilmu laduni diperoleh lantaran barokah guru, memahami Al-Qur’an, sunnah, maupun kitab-kitab ulama saleh. Ilmu laduni sanggup disebut dengan ilmu mukasyafah, ilmu wahbi, ilmu ide dan ilmu illahi. Sebagaimana di sebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Kahfi ayat 65:

وعلمناه من لدنا علما

“Dan kami ajarkan padanya (Nabi Khidir) ilmu dari sisi kami.”

Ayat ini menandakan bahwa Nabi Khidir mendapatkan ilmu laduni eksklusif dari Allah SWT.

Ilmu laduni dalam literatur kitab-kitab salaf tidak hanya diperoleh oleh nabi khidzir saja, seorang wali atau sufi sanggup memperolehnya.

Dalam keterangan kitab-kitab tafsir di lingkungan ahlussunnah wal jama’ah, ilmu laduni sanggup diperoleh oleh seorang hamba yang taat dan hatinya bersih. Dan ketetapan ini sudah sangat masyur banyak wali dan sufi yang mendapatkannya.

Ibnu Hajar al-Haitami memberikan bahwa dalam Risalah al-Qusyairiyyah dan Awarif al-Awarif (as-Suhrawardi) ihwal wali yang mendapatkan info ghaib sangatlah banyak. Beliau juga menuturkan bahwa mengetahui ilmu ghaib merupakan sebagian dari karomah. Mereka sanggup memperoleh dengan cara dikhitbah-i (sabda) secara langsung, dibukannya hijab (kasyf) dan dibukakannya kepada mereka lauhul mahfudz sehingga sanggup mengetahuinya. [Fatawi Haditsiyyah hlm. 222]

Adapun bukti bahwa ilmu tersebut sanggup diperoleh oleh hamba yang higienis dan taat ialah Ayat Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 113 ihwal nabi Muhammad mendapatkan ilmu berkaitan dengan hukum-hukum dan hal ghaib:

وعلمك مالم تكن تعلم

“Dan (Allah) telah mengajari dirimu ilmu yang engkau tidak mengetahuinya.”

Ayat Al-Qur’an surat Yusuf ayat 68 ihwal nabi Ya’qub mendapatkan Ilham dari Allah,

وإنه لذوعلم لما علمناه

“Sesungguhnya Dia (Ya’qub) ialah orang yang mempunyai ilmu, lantaran kami telah mengajarinya.”

Hadis riwayat Ibnul Jauzi dalam manaqib Umar ihwal Sayyidina Umar yang mengetahui bahwa tentaranya sedang berperang padahal ia sedang dalam kondisi berkhutbah.

Hadis riwayat Abu Nu’aim al-Ashfahani dalam hilyah al-Auliya’ dari Anas:

من عمل بما علم ورثه الله تعالى علم ما لم يعلم

“Barang siapa mengamalkan apa yang ia ketahui, maka Allah akan memberinya ilmu yang dia tidak ketahui.” [AshShawi dalam hasyiyah Tafsur al-Jalalain 1/182 menisbatkan ucapan tersebut kepada Imam Malik]

Ibnu Hajar al-Haitami pernah di tanya ihwal hadis itu dan ia menjawab, “sesuai apa yang dikatakan Izzudin bin Abdissalam bahwa tolong-menolong orang yang mau mengamalkan apa yang dia ketahui baik wajib syar’i atau sunnah atau menjauhi makruh dan haram, maka Allah akan memberinya ilmu illahi yang sebelumnya dia tidak mengetahuinya.” [Fatawi Haditsiyyah hlm. 203-2014] 

Ilmu laduni itu murni dari Allah. Jika Allah membukakan pintu makrifat bagimu, jangan hiraukan mengapa itu terjadi, sementara amalmu masih sedikit.

0 komentar:

Posting Komentar